Fiqih Muamalat Komitmen Jual Beli (Al- Bai’) & Fathul Qorib

Fiqih Muamalat Komitmen Jual Beli (Al- Bai’) & Fathul Qorib

Jual beli merupakan suatu kegiatan sehari hari yang dilakukan oleh setiap orang bahkan hal yang tidak mungkin bila seseorang tidak pernah melaksanakan jual beli . namun yang namanya jual beli pastilah ada kesepakatan atu yang disebut kesepakatan .jual beli dalam istilah  Bahasa arab al-bai’ yang mana berdasarkan etimologi  tukar menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain, dalam landasan lain juga disebut tukar menukar secara mutlak.

Dari beberapa landasan yang kita ketahui perihal jual beli ialah tukar menukar antara barang yang satu dengan barang yang lain , yang dilakukan orang diindonesia disebut dengan istilah belanja . dalam firman allah juga dibahas terkat jual beli yaitu dalah surat al-baqarah  (2) ayat 16
 “ mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka menerima petunjuk,.”

Dasar Hukum Jual Beli

Jual beli merupakan kesepakatan yang diperbolehkan berdasarkan al-qur’an dan hadist (sunnah) dan ijma para ulama’. Dilihat dari segi aturan jual beli hukumnya boleh, kecuali jual beli yang dihentikan oleh syara’  seperti melaksanakan kecurangan dalam kesepakatan menjual barang yang tak pantas diperjual belikan .
dalam alqur’an surat al-baqarah  ayat 275 disebutkan  

“dan allah sudah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba’”
adapun sadar aturan jual beli dari hadist riwayat al-bazzar dishohihkan oleh al-hakim.:
            “ dari rifa’ah ibnu rafi , bahwa nabi ditanya .usaha apakah yang paling baik ? nabi menjawab  :usaha seseorang dengan tangannya sendiri setiap jual beli yang mabrur 
Jadi dari ayat al-qur’an dan hadist yang dikemukakan diatas sanggup dipahami bahwa jual beli merupakan pekerjaan yang halal dan mulia.

Dalam keterangan kitab Fathul Qorib jual beli dibagi menjadi 3 macam

1.      Jual beli sesuatu yang sanggup dilihat
Namun ada syarat dan ketentuan untuk sanggup dibolehkannya jual beli tersebut 
a.       Keadaan bendanya suci
b.      Bendanya sanggup diambil keuntungannya
c.       Bendanya sanggup diserahkan pihak pembeli
Dalam kesepakatan jual beli diatas harus ada ijab qabul (serah terima) yang dimaksud ijab (ucapan sang penjual) dan qabul (ucapan sang pembeli) teladan :
Ijab      : saya jual barang ini kepadamu
Qabul  : saya membeli barangmu dan memiliki

 Baca Juga : MATI SYAHID MENURUT 4 MAZHAB

Walaupun tidak memakai kata kata diatas yang terpenting penjual dan penjual sama sama mengerti.
2.      Menjual benda yang diberi sifat
Dalam suatu tanggungan, penjual semacam ini dinamakan pesanan dan hukumnya boleh .
Seperti teladan jual beli online yang ada dijaman modern ketika ini.

       3. Memjual barang yang tidak ada dan tidak sanggup dilihat oleh kedua belah pihak
Suatu rang yang tidak ada tidak sanggup diperjual belikan, maksud lain dari tidak ada tidak sanggup terlihat dzat maupun sifatnya ,dan jual beli yang ibarat ini tidak diperbolehkan.

Rukun Jual Beli

Menurut jumhur ulama’ rukun jual beli ada 4 (empat) yaitu

1.      Adanya penjual
2.      Membeli
3.      Shighat (ucapan atau mentuk ungkapan dari ijab dan qabul)
4.      Ma’qud (objek atau benda yang dijual belikan)
Perlu kita pahami proses jual beli pastilah ada kriteria keempat rukun diatas. Tidak memenuhi rukun bila salah satu diatas tidak terpenuhi bukan hanya rukun dalam jual belipun ada ketentuan syarat yang berlaku

Syarat Jual Beli

Didalam jual beli ada 4 (empat syarat) yang harus dilakukan :
1.       Syarat in’iqad (terjadinya akad)
2.      Syarat Sahnya kesepakatan jual beli
3.      Syarat kelangsungan jual beli
4.      Syarat mengikad

Jadi yang dimaksud syarat syarat diatas hanya untuk mencegah terjadinya perselisihan diantara manusia, menjaga kemaslahatan pihak pihak yang melaksanakan akad, dan menghilangkan sifat gharar (penipuan)

Baca Juga : Hukum –hukum Ihyaa-ul mawat Atau Menghidupkan bumi mati